Produksi minyak sawit di produsen utama Asia akan tetap ketat pada 2023

KUALA LUMPUR : Produksi minyak sawit di produsen terbesar dunia, Indonesia dan Malaysia, akan tetap tertekan tahun ini di tengah antisipasi meningkatnya permintaan dari pasar utama China, kata pejabat industri dalam seminar pada Kamis.

Kedua negara Asia Tenggara tersebut menyumbang sekitar 85 persen dari ekspor dunia, tetapi produksinya stagnan dalam beberapa tahun terakhir karena kekurangan tenaga kerja yang disebabkan pandemi, aplikasi pupuk yang rendah, dan ekspansi perkebunan baru yang lambat.

“Setelah tahun yang mengecewakan di tahun 2022, pasar mengharapkan produksi minyak sawit meningkat pada tahun 2023 sekitar 2,5 juta ton, dipimpin oleh Indonesia,” kata Julian McGill, kepala regional di konsultan agribisnis LMC International.

Namun hal ini tidak akan berarti banyak tersedianya minyak sawit untuk ekspor karena pengolahan dalam negeri yang lebih besar di Indonesia, termasuk peralihan ke mandat biodiesel yang lebih tinggi, katanya.

Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) mematok produksi nasional pada 2023 naik sedikit menjadi 19 juta ton, dari 18,45 juta ton pada 2022, tertahan oleh krisis tenaga kerja.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi Indonesia akan turun menjadi 50,82 juta ton tahun ini, dari 51,33 juta ton tahun lalu.

“Produksi industri sawit Indonesia cenderung menurun sedangkan dari sisi permintaan terjadi pergeseran konsumsi dari ekspor ke konsumsi dalam negeri,” kata Pengurus GAPKI Fadhil Hasan.

Langkah Indonesia untuk meningkatkan penggunaan minyak sawit dalam biodiesel menjadi campuran 35 persen akan menambah antara 2,5 juta hingga 3 juta ton permintaan minyak sawit mentah di dalam negeri, katanya.

Direktur Jenderal MPOB Ahmad Parveez Ghulam Kadir mengatakan harga diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran 4.000-4.200 ringgit per ton tahun ini, naik dari rekor tertinggi yang tercatat tahun lalu.

Impor yang lebih tinggi oleh China karena melonggarkan aturan COVID-19, pengetatan kebijakan ekspor oleh Indonesia dan risiko produksi biji bunga matahari Ukraina dan pasokan kedelai Amerika Selatan akan mendorong harga, katanya.

Harga patokan minyak sawit mentah Malaysia mencapai rekor rata-rata 4.910 ringgit ($1.123,57) per ton pada tahun 2022 karena kekurangan pasokan minyak nabati yang dipicu oleh konflik Rusia-Ukraina dan pembatasan ekspor Indonesia.

Kontrak turun ke level terendah dalam hampir tiga minggu pada hari Kamis di 3.908 ringgit ($896,95) per ton. [POI/]

($1 = 4,3570 ringgit)

Posted By : result hk 2021