Uncategorized

Obat sirop tercemar: Kasus cedera ginjal akut melonjak, kecemasan orang tua merebak

JAKARTA: Kematian lebih dari 150 anak di Indonesia telah memicu kekhawatiran para orang tua akan aman atau tidaknya obat-obatan yang beredar di negeri ini.

Pekan lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberlakukan larangan total terhadap semua obat sirop menyusul dugaan bahwa sebagian telah tercemari dietilena glikol dan etilena glikol.

Digunakan dalam aneka aplikasi industri, misalnya sebagai zat antibeku, kedua senyawa tersebut telah ditunjuk sebagai biang meningkatnya kasus cedera ginjal akut (acute kidney injury, AKI) pada anak-anak.

Pada 20 Oktober lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan bahwa setidaknya lima produk telah dipastikan mengandung etilena glikol dan dietilena glikol dengan kadar tidak aman.

Kelima obat tersebut, terdiri dari tiga sirop turun panas dan dua sirop pereda batuk, lantas ditarik dari peredaran oleh produsen masing-masing.

Meski otoritas kesehatan akhirnya menyatakan bahwa 133 obat sirop lainnya aman dikonsumsi, pelarangan dua pekan lalu telanjur membuat banyak orang tua cemas.

“Saya langsung buang semua obat sirop yang ada. Enggak peduli itu termasuk lima obat (yang ditarik) atau bukan. Pokoknya langsung buang,” ujar Lenny Kurniawati, 35 tahun, ibu dari dua anak, kepada CNA.

Citra Dewi, 34 tahun, juga ibu dari dua anak, bertindak lebih jauh.

“Semua obat-obatan saya buang—sirop, tablet, semuanya. Dari mana kita bisa tahu obat-obatan itu aman atau enggak? Saya sih enggak mau ambil risiko,” katanya kepada CNA.

Citra bertekad tidak akan memberikan obat pabrikan kepada anak-anaknya, setidaknya untuk sementara waktu. Ia hanya akan mengompres anggota keluarga yang demam, atau mengandalkan ramuan herbal untuk penyakit ringan.

“Kita beli obat-obatan itu kan karena pemerintah bilang itu aman. Setelah pemerintah mengakui kalau ada yang enggak aman, saya jadi gak yakin sama cara obat-obatan dinilai dan diawasi di sini,” ujarnya.

“Saya enggak akan kasih obat ke anak-anak saya kalau enggak benar-benar sakit.”

Akan tetapi, tidak seekstrim Citra, Lenny mengatakan dia masih percaya pada obat-obatan yang diresepkan dokter.

“Sekarang ini jadi orang tua di Indonesia tuh serbasalah. Di satu sisi, kita masih pandemi. Kita juga sudah mulai masuk musim hujan—orang-orang jadi gampang sakit. Tapi di sisi lain, kita enggak bisa yakin 100 persen obat apa yang aman untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Pada Kamis (27 Okt.), Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan ada lebih dari 260 anak—paling muda berusia enam bulan—yang telah didiagnosis menderita AKI. Dari 157 anak yang lantas meninggal karena penyakit tersebut, sebagian besar berumur di bawah lima tahun.

“Enam puluh satu persen pasien gagal ginjal stadium tiga. Tubuh mereka tidak memproduksi urin karena ginjalnya gagal menjalankan fungsi metabolisme,” ujar juru bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril, dalam konferensi pers Kamis itu. Itulah alasan mengapa banyak yang akhirnya meninggal, tambahnya.

Seorang pakar yang diwawancarai CNA mengungkapkan kekhawatiran bahwa ini sekadar puncak gunung es. Bisa jadi ada lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan dari seantero nusantara.

Posted By : togel hongkon